Kemana Raibnya Miliaran Dana Royalti Gedung Sumatera Promotion Center Batam? Bagian 5

0
1442
  • Laporan Dugaan Tipikor Royalti Gedung Pusat Promosi se-Sumatera Sudah Diterima Pidsus Kejari Batam

Batam – Kasus dugaan tindak pidana korupsi royalti gedung Pusat Promosi se-Sumatera (Sumatera Promotion Center) Batam tahun 2016-2018 memasuki babak baru.

Laporan dugaan tindak pidana korupsi dana royalti tersebut sudah masuk bidang pidana khusus (Pidsus).

Salah seorang pegawai di Kejaksaan Negeri Batam mengatakan, untuk laporan dugaan tindak pidana korupsi royalti gedung Pusat Promosi se-Sumatera dari Yusril sudah masuk Pidsus.

“Untuk laporan itu, sudah ke Pidsus suratnya bang,” kata dia kepada Batamtimes, Jumat (18/6/2021) di Kejari Batam.

Sebelumnya diberitakan, Aktivis Anti Korupsi Batam, Yusril Koto melaporkan oknum JS dan I atas dugaan tindak pidana korupsi dana royalti gedung Pusat Promosi se-Sumatera tahun 2016 sampai dengan 2018 ke Kejaksaan Negeri Batam (14/6/2021).

Dalam laporannya Yusril Koto menyampaikan, patut diduga terlapor I (oknum JS) dan terlapor II (oknum I) yang secara hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan negara sebesar Rp1.801.709.360 (satu miliar delapan ratus satu juta tujuh ratus sembilan ribu tiga ratus enam puluh rupiah).

Pada tahun 2014 terlapor I melakukan sebanyak 3 (tiga) kali penarikan tunai royalti Gedung Pusat Promosi se-Sumatera di rekening Bank Riau Nomor 10-60-30000-1 Atas nama BPP – Gedung Pusat Promosi se-Sumatera Bank Riau Nomor 10-60-30000-1 dengan total jumlah sebesar Rp937.784.360, yakni pada (10/07/2014) Rp59.267.971, (14/07/2014) Rp495.243.921, dan (16/07/2014) Rp383.272.468.

Selanjutnya, pada tahun 2015 Terlapor I melakukan sebanyak 3 (tiga) kali penarikan tunai royalti Gedung Pusat Promosi se-Sumatera di rekening Bank Riau Nomor 10-60-30000-1 Atas nama BPP – Gedung Pusat Promosi se-Sumatera dilakukan dengan total jumlah sebesar Rp328.440.000, yakni pada (26/02/2015) Rp122.610.000, (12/03/2015) Rp158.430.000, dan (29/06/2015) Rp47.400.000.

Kemudian, pada tahun 2016 terlapor I melakukan penarikan tunai royalti Gedung Pusat Promosi se-Sumatera di rekening Bank Riau Nomor 10-60-30000-1 Atas nama BPP – Gedung Pusat Promosi se-Sumatera dengan total jumlah sebesar Rp210.000.000, yakni pada (13/09/2016) Rp30.000.000, (27/09/2016) Rp40.000.000, (27/09/2016) Rp10.000.000, (31/10/2016) Rp30.000.000, (21/12/2016) Rp80.000.000, dan (29/12/2016) Rp 20.000.000.

Perbuatan Terlapor II pada tahun 2014 melakukan penarikan tunai royalti Gedung Pusat Promosi se-Sumatera di rekening Bank Riau Nomor 10-60-30000-1 Atas nama BPP – Gedung Pusat Promosi se-Sumatera dengan total jumlah sebesar Rp325.485.000, yakni pada (03/03/2015) Rp18.960.000 dan (24/06/2016) Rp306.525.000.

“Penarikan tunai royalti Gedung Pusat Promosi se-Sumatera di rekening Bank Riau Nomor 10-60- 30000-1 Atas nama BPP – Gedung Pusat Promosi se-Sumatera oleh Terlapor I dan Terlapor II dengan total sebesar Rp1.801.709.360 (satu miliar delapan ratus satu juta tujuh ratus sembilan ribu tiga ratus enam puluh rupiah) itu berasal dari setoran royalti PT. Sembilan Satu Satu (PT 911) sebagai pengelolaan Gedung Pusat Promosi se-Sumatera dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2022, berdasarkan Perjanjian Kerjasama Operasi Pengelolaan Gedung Pusat Promosi se-Sumatera antara Badan Pengusahaan dan Pengembangan Gedung Pusat Promosi se-Sumatera dan saat perbuatan Terlapor I dan Terlapor II itu sdr. Dr. H. Gustian Riau, SE. M.si., selaku Wakil Ketua I BPP tahun 2017 – 2018, dan Wakil Ketua II BPP tahun 2014 -2016,” tulis Yusril dalam laporannya.

Hingga berakhirnya pemeriksaan keuangan PT Sembilan Satu Satu (PT 911) dengan Laporan Hasil Pemeriksaan Atas Laporan Keuangan PT Sembilan Satu Satu (PT 911) Terlapor I dan Terlapor II tidak bisa membuktikan penarikan tunai royalti Gedung Pusat Promosi Se-Sumatera di rekening Bank Riau Nomor 10-60-30000-1 Atas nama BPP – Gedung Pusat Promosi se-Sumatera dengan total sebesar Rp1.801.709.360 (satu miliar delapan ratus satu juta tujuh ratus sembilan ribu tiga ratus enam puluh rupiah) sudah disetorkan kepada BP Batam dan Kota Batam.

Mengingat Gedung Pusat Promosi se-Sumatera merupakan Gedung Pemerintah maka perbuatan Terlapor I dan Terlapor II merugikan keuangan negara dengan total sebesar Rp1.801.709.360 (satu miliar delapan ratus satu juta tujuh ratus sembilan ribu tiga ratus enam puluh rupiah).

“Maka untuk itu saya berharap laporan ini menjadi pintu masuk Kejaksaan Negeri Batam untuk mengungkap penyebab BP Batam tidak pernah menerima royalti minimal sebesar Rp 3.489.767.081 periode 2016 sampai dengan 2018 dan Pemko Batam minimal Rp376.262.213,38 hingga per 31 Desember 2020,” kata Yusril dalam laporan tersebut.

Bersambung…

Penulis : Naldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here