Jakarta – batamtimes.co – Isu mengenai peredaran galon guna ulang yang disebut “lanjut usia” kembali mencuat dan dikaitkan dengan potensi risiko kesehatan. Namun, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Suprihatin, menegaskan bahwa usia pemakaian galon tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya ancaman bagi kesehatan.
“Selama ini tidak ada laporan ilmiah yang menunjukkan galon guna ulang menimbulkan dampak kesehatan hanya karena faktor usia pemakaian,” ujar Prof. Suprihatin di Jakarta.
Pakar lingkungan dan keamanan pangan tersebut menilai, persoalan utama justru bukan terletak pada umur galon, melainkan pada kebersihan fisik serta kontrol sanitasi dan mikrobiologis.
Menurutnya, risiko kesehatan dapat muncul jika kondisi galon kotor atau tidak dibersihkan dengan baik.
Profesor Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB yang mendalami bidang air ini menambahkan, selama galon guna ulang memenuhi standar kebersihan dan pengawasan yang ketat, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Terlebih, perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) besar dan bereputasi umumnya telah menerapkan standar tinggi dalam pengelolaan galon guna ulang.
Standar tersebut, kata dia, mencakup kriteria umur pakai, kondisi fisik, serta uji kebersihan kimia dan mikrobiologis sebelum galon kembali diedarkan ke konsumen.
Artinya, perusahaan-perusahaan tersebut menjalankan prosedur operasional yang ketat terkait kelayakan kemasan air.
“Perusahaan AMDK yang sudah punya nama umumnya memperhatikan hal tersebut dan jarang menggunakan galon yang lanjut usia,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia membedakan praktik penggunaan galon di industri resmi AMDK dengan sektor informal seperti depot air minum isi ulang (DAMIU).
Menurutnya, galon yang benar-benar sudah berusia panjang lebih banyak ditemukan di jalur informal yang tidak memiliki standar ketat seperti industri AMDK.
Kendati demikian, Prof. Suprihatin mengaku belum mengetahui adanya rekomendasi ilmiah maupun regulasi resmi yang menetapkan batas usia galon guna ulang. Ia menyebut ada pihak yang pernah mengusulkan batas maksimal 40 kali pemakaian, namun hal itu belum didukung data ilmiah yang kuat.
“Tetapi itu juga dasarnya belum kuat dan saya belum melihat ada data valid yang mendukungnya,” tegasnya.
Penulis : Adi





















