Penderitaan para Jenderal Setelah Tidak Jadi Kapolri

0
131

batamtimes.co,Jakarta-Komjen Tito Karnavian menjadi calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti. Pergantian Kapolri selalu banyak menyisakan cerita.

Yang jarang diungkap adalah bagaimana nasib para jenderal setelah tak menjabat. Nah, mantan Kapolri Jenderal (Purn) Kunarto blak-blakan soal hal ini. Rasanya pedih. Terutama bagi mereka yang sangat menikmati jabatannya.

“Sewaktu menjabat, semua menganggap baik, hebat, berani dan sebagainya. Tetapi setelah sehari tidak menjabat, semua itu seperti tak pernah ada,” tulis Jenderal Kunarto dalam buku biografi Jenderal Anton Soedjarwo koleksi Museum Polri.

Menurut Kunarto, bagi mereka yang biasa duduk enak, diberhentikan ibarat kehancuran. Biasa didatangi anak buah, rekan, pengusaha, politikus dan lain-lain. Setelah tak menjabat, tak ada lagi yang peduli.

“Tak ada tamu yang datang, apalagi parcel. Dia lalu merasa sunyi, lonesome, dan tidak jarang frustasi. Inilah yang disebut post power syndrome. Berbahagialah yang tidak pernah merasakan,” kata Kunarto.

Kunarto mengaku sedih melihat para jenderal yang kondisi fisiknya langsung drop setelah tak lagi menjabat. Sebagian terpukul dan sedih melihat kenyataan penerusnya tak melakukan apa yang dirintis.

Maka Kunarto tak ambil pusing. Menurutnya tidak naik pangkat, tidak apa-apa. Tidak ada yang mengunjungi juga tak jadi masalah. Yang penting lakukan yang terbaik.

“Memang sangat mustahil kita di dunia ini dapat memuaskan semua orang. Itulah rahasia seorang pemimpin. Hampir semua mantan Kapolri bahkan pejabat apapun merasakan hal ini,” kata dia.

Jenderal Kunarto menjabat Kapolri tahun 1991 sampai 1993. Dia pernah menjabat sebagai ajudan Presiden Soeharto, lalu Wakapolda Metro Jaya. Selanjutnya menjadi Kapolda Sumut dan Kapolda Nusa Tenggara.(merdeka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here