Membumikan Tudung Manto ditanah Bunda Melayu, Lina Nasiruddin : Setelah HAKI, akan memberikan kemaslahatan masyarakat lingga

0
339
Ketua PISWAN Lingga Ibu Lina Nasiruddin saat menghadiri MTQ - IX Tahun 2022 di Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. (foto : Humpro)

Lingga – batamtimes.co – Tudung Manto merupakan salah satu kelengkapan berpakaian bagi kaum wanita khususnya bangsa Melayu.Awalnya Tudung Manto hanya dikenakan oleh kalangan Bangsawan saja, namun kini sebagian besar wanita Melayu yang sudah menikah dapat menggunakannya dalam acara-acara tertentu.

Adalah satu kebanggaan dalam menggunakan Tudung Manto yang menjadi salah satu identitas budaya selain bertujuan untuk mempromosikan warisan budaya.

Foto bersama Piswan DPRD Kabupaten Lingga saat menghadiri kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga. (Foto : Humpro)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga melalui para istrinya yang tergabung dalam Persatuan Istri Anggota Dewan (Piswan) DPRD Kabupaten Lingga saat menghadiri kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX Tingkat Kabupaten Lingga seragam kenakan kain penutup kepala yakni Tudung Manto, acara  Pembukaan Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tersebut berlangsung selama dua hari yakni Sabtu dan Minggu tanggal 19 sampai dengan 20 Maret 2022 bertempat di Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Menurut Ketua Persatuan Istri Dewan (Piswan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga, Lina Nashiruddin mengungkapkan, pihaknya mengenakan penutup kepala Tudung Manto tersebut bertujuan untuk mempromosikan keelokan Tudung Manto pada masyarakat khususnya generasi muda kaum perempuan.

“Diharapkan dapat mempromosikan dan memperlihatkan kepada anak muda penerus agar dapat turut serta mengembangkan dan bangga terhadap Tudung Manto,” kata Lina Nashiruddin yang merupakan istri dari Ketua DPRD Kabupaten Lingga Ahmad Nashiruddin.

Lina Nashiruddin berharap keberadaan Tudung Manto tidak hanya sebatas dilestarikan namun juga harus dapat berdampak pada kehidupan sosial dan perekonomian bagi masyarakat maupun Pemerintah Daerah.

Saat ini, Tudung Manto telah memiliki sertifikat dan diakui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM yang berasal dari Kabupaten Lingga. “Dengan ikut andil dalam pelestarian Tudung Manto tentunya kita berharap kelestarian ini dapat lebih maju dan bisa merambah ke luar daerah,” kata Lina Nashiruddin.

Persatuan Istri Dewan (Piswan) sepakat jika Tudung Manto yang telah mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia itu harus dapat benar-benar dilestarikan dan dikembangkan hingga dapat berdampak pada perekonomian masyarakat.

Sehingga Para istri anggota DPRD Kabupaten Lingga ini sangat mendukung upaya yang tengah digalakkan oleh Pemerintah Daerah melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga yang mana beberapa waktu lalu tepat pada pada tanggal 07 Maret 2022 sampai dengan 21 Maret 2022 menggelar pelatihan pengrajin tenun Tudung Manto yang dilaksanakan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Seperti diketahui, Bupati Lingga berharap dengan dilaksanakan pelatihan pengrajin Tudung Manto yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lingga bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga menargetkan di tahun 2022 lahir sebanyak 100 orang pengrajin tenun Tudung Manto.

“Tentunya dengan semakin banyak pengrajin maka produksi Tudung Manto itu sendiri akan memiliki stok yang banyak dan menjadi lkemudahan wisatawan yang datang ke Lingga untuk memiliki cinderamata khas Melayu Lingga. Dan tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya para pengrajin Tudung Manto,” Lina Nashiruddin memapaparkan.

Dalam kesempatan yang sama Persatuan Istri Dewan (Piswan) DPRD Kabupaten Lingga juga mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya kaum perempuan generasi muda untuk dapat menjaga dan melestarikan serta bersama-sama mempromosikan Tudung Manto ke daerah luar bahkan ke taraf nasional dan internasional.

Lina Nashiruddin juga mengungkapkan jika dirinya bersama istri anggota DPRD Kabupaten Lingga lainnya sangat mendukung dan berupaya melestarikan serta mempromosikan Tudung Manto. Ia menceritakan salah satu upaya yang dilakukannya yakni ketika beberapa waktu lalu saat mengikuti kegiatan Festival Tutup Kepala Perempuan Nusantara, dikesempatan itu kata Lina Nashiruddin, ia memperkenalkan apa itu Tudung Manto, mulai dari history, cara pakai dan proses pembuatan Tudung Manto dan sebagainya tentang Tudung Manto.

Lebih jauh Lina Nashiruddin bercerita, Tudung Manto memiliki ciri yang khas yaitu motif yang bernuansa Islami dan sangat melekat dengan budaya melayu Lingga. Juga dalam proses pembuatannya, untuk dapat menghasilkan satu helai Tudung Manto memerlukan keterampilan, kesabaran dan ketelitian serta membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Persatuan Istri Dewan (Piswan) DPRD Lingga sangat bangga bisa mendukung program Pemerintah Daerah dalam melestarikan Tudong Mantu dalam setiap kegiatan atau even – even yang di selenggarakan baik oleh Kabupaten maupun Provinsi, dengan demikian diharapkan Tudong Manto bisa lebih dikenal oleh masyarakat baik lokal maupun mancanegara.

Sehingga bisa menjadi salah satu produk unggulan untuk dipromosikan kepada daerah lainnya sebagai salah satu produk lokal yg sangat cocok untuk dijadikan sebagai buah tangan ataupun souvenir bagi yang berkunjung ke kabupaten Lingga.

Upaya-upaya dalam mempromosikan, kata Lina Nashiruddin harus terus didukung serta digalakkan yang tujuannya agar Tudung Manto terkenal seantero negeri ini bahkan sampai ke luar negeri dan Tudung Manto dapat menjadi bagian lain dari pendukung perekonomian masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Lingga.

“Ibu Syarifah Puspawati Agusmarli merupakan salah satu pengrajin Tudung Manto, beliau telah memproduksi beberapa Tudung Manto,” ungkap Lina Nashiruddin sambil menunjuk salah satu Istri Anggota DPRD Lingga yang juga menekuni pembuatan Tudung Manto.

“Kami juga berpartisipasi dalam mempromosikan tudong Manto sebagai salah satu produk unggulan dari kabupaten Lingga. Dengan semakin dikenalnya Tudung Manto ini maka tentu akan mampu menyumbangkan PAD bagi kabupaten Lingga melalui pengrajin-pengrajin yang memproduksi Tudong Manto,” kata Lina Nasiruddin.

Untuk itu mari bersama jadikan pemakaian Tudong Manto menjadi identitas wanita melayu khususnya Kabupaten Lingga. Bangga memakai dan memperkenalkan produk lokal kebanggaan Kabupaten Lingga.

“Bertudong Manto Berkain Dagang itulah perempuan Melayu”.

Beberapa saat lalu pada saat pembukaan pelatihan Tudung Manto, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga, Marathusholiha mengungkapkan, pelatihan yang dilaksanakan selain dalam upaya mendukung pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 lalu juga untuk meningkatkan jumlah prosuksi Tudung Manto.

Kegiatan ini juga difungsikan untuk memotivasi masyarakat guna mempertahankan maupun mencintai produk lokal yang merupakan khazanah kebudayaan Melayu. Selain itu, pelatihan pembuatan Tudung Manto juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.

“Kita harus serius dan fokus dalam mempertahankan dan melestarikan warisan budaya asli Kabupaten Lingga ini, agar lebih bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat luar. Jangan sampai warisan ini tenggelam, dan pada akhirnya diambil daerah lain,” tegas Marathusholiha yang merupakan istri dari Bupati Lingga Muhammad Nizar.

Sebagaimana diketahui, Tudung Manto telah mendapatkan HAKI, sejak 2010 dengan pengakuan secara perorangan atau pribadi. Dan seiringnya waktu, pada tahun 2021 Hak Cipta atas Tudung Manto kini melekat pada pemerintah Kabupaten Lingga.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka perlindungan Pengetahuan Tradisonal berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

“Saya mengajak merekrut generasi muda untuk mewariskan keterampilan menekat Tudung Manto, demi melestarikan khazanah bangsa Melayu,” kata Marathusholiha

Hal senada juga disampaikan Muhammad Nizar selaku Bupati Lingga juga terus mendorong dan memberikan dukungan terkait melestarikan dan mempromosikan serta meningkatkan produksi kerajinan tangan penutup kepala Tudung Manto.

Menurut Bupati Lingga Muhammad Nizar, sebelum diadakan pelatihan pengrajin Tudung Manto, ia mencatat hanya terdapat 20 orang pengrajin Tudung Manto. Hal itu diungkapkan Bupati Lingga Muhammad Nizar pada 13 November 2021 saat membuka secara resmi kegiatan Fashion Show Tudung Manto yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, di Taman Tanjung Buton, Daik Lingga.

“Saat ini hanya tersisa 20 pengrajin, dan untuk kedepannya harus mendapat penambahan jumlah pengrajin, untuk peningkatan jumlah produksinya,” kata Bupati Lingga Muhammad Nizar.

Untuk melestarikan dan meningkatkan jumlah prosuksi Tudung Manto, Bupati Lingga meminta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lingga bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lingga untuk bergandengan melakukan upaya menciptakan pengrajin-pengrajin baru Tudung Manto dan meningkatkan jumlah produksi Tudung Manto.

Terhadap Tudung Manto, Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lingga bersama-sama sepakat dan mengajak seluruh elemen masyarakat Kabupaten Lingga yang dijuluki Bunda Tanah Melayu ini untuk melestarikan dan mempromosikan Tudung Manto kedaerah luar, nasional maupun internasional.

(red/Cipto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here