Periksa Kode SPBU, Kuota Solar Bersubsidi Ditemukan Berkurang

0
708
Keterangan : Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Air Lakon Ranai.

Natuna – Batamtimes.co – Dugaan kasus pencurian kuota solar bersubsidi pemilik Barcot mypertamina akhir-akhir ini kian meresahkan dan bisa menimpa siapa saja namun enggan untuk komplain.

Kasus pencurian kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) pengguna barcode pernah dialami seorang warga Natuna. Ia dibuat meradang sekaligus tak habis pikir, setelah mengetahui barcode atau QR Code miliknya diduga disedot di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Air Lakon Ranai.

Kejadian ini terjadi pada Rabu, (18/11/2024) tahun lalu, saat pemilik kenderaan Pick-up L-300 Colt BP 8324 NY enggan disebutkan namanya mau mengisi solar di SPBU di Jalan Datuk Kaya Wan Mohammad Benteng Ranai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Setibanya, di SPBU tersebut, pengendara roda empat ini menunjukan QR Code (Barcode) untuk pengisian BBM, namun petugas menolaknya karena kuota solarnya sudah habis.

Padahal seminggu itu, dia belum pernah isi solar sama sekali. Kaget dan kesal sekali mendengar penjelasan petugas tersebut.

” Kok bisa gitu ya? gumanya merasa heran.

Petugas SPBU saat itu, kemudian menunjukkan riwayat pembelian yang tertera dalam data di akun si pengendara mobil, diketahui bahwa kuota solar tersebut diduga disedok di SPBU Air Lakon karena terkoneksi langsung dengan SPBU Wan Mohnd Benteng Ranai.

Karena tak jadi ngisi solar dan petugas SPBU tersebut menyarankan agar mengganti barcode yang baru dan dibantu petugas pada akhirnya munculah data dibarcode baru tertera sisa kuota 1,2 liter total kuota harian 60 liter.

Melihat data tersebut petugas pun menyarankan untuk komplain kepada  SPBU tersebut.

Tanpa membuang waktu, setelah ditemui petugas SPBU di Air Lakon soal kuota solar yang telah disedot habis dan meminta penjelasan petugas, namun sayangnya tidak bisa memberi keterangan yang memuskan.

Pengusaha SPBU PT. Naga laut Natuna, Rian menyampaikan kejadian kasus pencurian kuota solar itu kerap terjadi di Ranai.

Kesalnya, kata dia, selalu yang dituding ke SPBU air Lakon padahal belum tentu kebenaranya seperti itu.

” Iya bang, saya merasa geram, bila ada pengguna barcode kuota solar berkurang atau bermasalah selalunya diarahkan ke Air Lakon, namun setelah kita chek tidak ada buktinya, bisa saja pada SPBU lain,” sebut Rian dikediamanya, Senin (10/11/2025) pagi.

Bahkan, adek mantan wakil Bupati Imalko (Almarhum) ini menyarankan bila pengguna barcode solar bersubsidi pada kenderaan roda empat mengalami kehilangan kuota solar minta ditunjukan bukti (Foto) dari SPBU tersebut.

” Jadi, minta datanya dan periksa kode nomor SPBUnya, biar lebih jelas” ucapnya.

Menurutnya, sistem di Pertamina bisa melacak barcode MyPertamina tersebut digunakan pengisian BBM kendaraan berdasarkan jam dan tanggal pengisian.

Maka itu, kami pun sudah melakukan pengechekan sesuai tanggal dan waktu pengisian yang dialami korban yang diarahkan ke SPBU Air Lakon, ternyata tidak ditemukan.

Namun sebaliknya, sambung Rian, jika hal tersebut ditemukan dan ada kelalaian dari petugas kita tidak akan diberikan toleransi langsung kami pecat, tegasnya lagi.

Terakhir, Rian juga selalu memberikan penekanan pada operator pengisian BBM subsidi di SPBU. Saat melakukan pengisian BBM subsidi, operator harus mencocokkan barcode dengan pelat kendaraan.

Jika pelat kendaraan yang tertera pada barcode MyPertamina tidak sesuai dengan pelat kendaraan yang mengisian operator bisa menolak.

Laporan : Pohan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here