Kapolri Menyayangkan Peristiwa di Mapolresta Meranti Terjebak Asmara

0
138

batamtimes.co,Jakarta- Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyayangkan peristiwa di Mapolresta Meranti pada Kamis (25/8) dini hari. Pasalnya dua nyawa melayang lantaran terjebak dalam persoalan asmara.

“Ada peristiwa anggota polisi yang dibunuh karena hanya rebutan perempuan kalau saya tidak salah dan kemudian pelakunya ditangkap. Kemudian pelakunya ini katanya melakukan perlawanan sehingga kemudian dilakukan upaya kekerasan sehingga akhirnya meninggal dunia,” ujar Tito di Mabes Polri Jakarta Selatan, Jumat (26/8).

Tito berujar saat ini kondisi di Mapolresta Meranti sendiri telah kondusif. Hanya masih masih tidak habis pikir dalam benaknya peristiwa tersebut bisa terjadi antara anggota kepolisian dan masyarakat.

“Iya di Meranti prinsipnya situasi sudah kondusif. Cuma saya menyesalkan peristiwa ini terjadi. Seharusnya tidak perlu terjadi yang seperti itu,” ujar Tito.

Meski demikian Tito memaparkan peristiwa tersebut harus diusut tuntas. Sehingga kemudian dapat menjelaskan pas masyarakat agar tidak lagi marah tentang peristiwa yang sebenarnya.

Apalagi kata dia tentang awal mula pelaku pembunuhan Brigadir Adil Tambunan, yakni Apri Andi Pratama yang tewas setelah tertangkap oleh polisi. Inilah puncak kemarahan warga yang curiga pegawai honorer ini dianiaya oleh teman-teman Brigadir Adil setelah ditangkap.

“Ini yang harus kita perjelas sehingga akhirnya masyarakat di sana marah dan kemudian mempertanyakan kenapa ini sampai meninggal dunia di tangan polisi,” kata Tito.

Tito sendiri menekankan keras perihal program commader wish-nya. Yang mana memerintahkan kepada seluruh jajarannya untuk tidak melakukan kekerasan eksesif yang berlebihan kepada siapapun termasuk pelaku kejahatan.

“Saya minta kepada anggota juga di seluruh jajaran kepolisian sekali lagi commander wish saya tidak boleh melakukan kekerasan eksesif kepada tersangka apalgi sudah menyerah. Tidak boleh berlebihan. Kecuali kalau ada perlawanan,” ujarnya.

Misalnya, kata dia, dalam kasus Poso atau yang selama ini dilakukan Operasi Tinombala bersenjata M16. Apabila tersangka melakukan penyerangan kepada aparat maka dalam keadaan terpaksa dilakukan tindakan tegas untuk melindungi.

“Dalam keadaan memaksa, overma dan tindakan yang harus dilakukan untuk melindungi petugas dan masyarakat maka kekerasan dapat dilakukan,” jelasnya.

Sebelumnya Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo mengatakan kasus bermula saat Brigadir Adil yang membawa perempuan ke parkiran hotel di Selat Panjang. Di parkiran tersebut keduanya bertemu dengan Apri yang memicu pertengkaran dan disusul dengan penikaman yang menyebabkan Adil meninggal dunia.

Selanjutnya Kapolres Meranti memerintahkan anggotanya untuk segera mengejar dan menangkap pelaku penikaman Kamis dini hari itu. Selang dua jam dari tragedi pembunuhan, Apri pun berhasil dibekuk di Desa Mekarsari, Merbabu, kabupaten Kepulauan Meranti.

Pada saat penangkapan, pelaku dikabarkan telah melakukan tindak perlawanan kepada petugas. Sehingga dengan terpaksa timah panas itu melayang melumpuhkan kakinya.

Kemudian beredar kabar Apri telah dianiaya oleh anggota polisi yang langsung dibantah oleh Guntur. Menurut dia Apri kehabisan darah saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.

“Pelaku tewas akibat kehabisan darah saat akan dibawa ke RSUD,” kata Guntur.

Setelah tewasnya Apri, masyarakat Selat Panjang ramai-ramai mendatangi RSUD Meranti untuk menyaksikan langsung. Jumlah warga semakin banyak hingga mencapai ribuan.

Warga menilai polisi secara sengaja menghabisi Apri saat penangkapan. Sehingga suasana yang semakin memanas menggerakkan warga dari RSUD menuju Mapolres Meranti. Massa mengepung mapolres dan melempari dengan batu.

Polisi bertahan dengan tameng dan sesekali meletuskan senjata peringatan ke udara. Namun jumlah massa semakin banyak hingga terakhir seorang warga terjatuh dengan luka pada bagian kepala dan tewas di lokasi.

“Saat bentrokan, korban berinisial IR (45) terkena lemparan batu dari luar Mapolresta,” katanya.

Guntur menambahkan selain terdapat satu korban jiwa, dampak dari kerusuhan telah mengakibatkan kerusakan pada kaca Markas Polresta Meranti di Selat Panjang.

Sebelumnya,Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo menyebutkan kerusuhan yang terjadi di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau, dipicu api cemburu.

Pihaknya mensinyalir ada cinta segita di antara pegawai honorer Dinas Pendapatan Daerah Meranti Apri Adi Pratama, 24 tahun, dengan seorang wanita, serta anggota Polisi Kepolisian Resor Meranti bernama Brigadir Adil S. Tambunan.

Sampai sat ini belum diketahui identitas sang wanita idaman tersebut. “Masih kami dalam penyelidikan siapa wanita itu,” kata Guntur, Kamis, 25 Agustus 2016.

Menurut Guntur, peristiwa bermula Kamis dinihari, 25 Agusutus 2016, sekira pukul 01.45 WIB. Brigadir Adil masuk Hotel Furama, Selatpanjang bersama seorang wanita.

Tidak lama berselang, Adi datang menyerang. Sempat terjadi pertengkaran di parkiran hotel. Akhirnya Apri Adi diduga menikam tubuh Brigadir Adil sebanyak lima kali hingga tewas bersimbah darah. “Korban terluka lima tikaman di dada, bahu dan lengan,” kata Guntur.

Pelaku kemudian melarikan diri ke Pulau Merbau. Hanya berselang dua jam, polisi berhasil membekuk pelaku di Desa Mekar Sari, Kecamatan Merbau. Namun saat ditangkap pelaku diduga melawanan dengan sebilah badik.

Polisi disebutkan terpaksa melumpuhkan pelaku dengan dua tembakan tepat di mata kaki dan paha. “Pelaku akhirnya tewas saat dilarikan ke rumah sakit karena kehabisan darah,” kata Guntur.

Meninggalnya Adi di tangan polisi menyulut kemarahan warga Meranti. Mereka menuding terjadi kesalahan prosedur dalam penangkapan Adi yang mengakibatkan Adi tewas.

Warga Meranti yang berjumlah lebih kurang 500 orang menggeruduk Markas Polres Meranti. Mereka melempari kantor polisi dengan batu dan kayu. Bebatuan terus menghujani Mapolres. Suasana kian mencekam saat masyarakat mencoba menerobos blokade polisi.(red/id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here