8.6 C
New York
Saturday, October 17, 2026
spot_img
Home HEADLINE NEWS Kemarau Panjang dan El Niño Ancam Krisis Air Bersih di Kalsel, Aspihani...

Kemarau Panjang dan El Niño Ancam Krisis Air Bersih di Kalsel, Aspihani Soroti Keandalan Infrastruktur

0
75
Keterangan Foto : Direktur Eksekutif Lembaga Kerukunan Masyarakat (LEKEM) Kalimantan, Aspihani Ideris Assegaf

Kalsel, batamtimes.co – Kemarau panjang dan fenomena El Niño yang melanda Kalimantan Selatan memicu ancaman krisis air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, dan wilayah sekitarnya.

Kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam memastikan sistem penyediaan air minum tetap berfungsi optimal di tengah perubahan kondisi alam.

Direktur Eksekutif Lembaga Kerukunan Masyarakat (LEKEM) Kalimantan, Aspihani Ideris Assegaf, mengatakan persoalan air bersih tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber air, tetapi juga kemampuan infrastruktur dalam menjaga keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat.

“Permasalahan air bersih saat ini tidak sekadar berfokus pada ketersediaan air, melainkan pada keandalan sistem penyediaan air minum dalam menghadapi perubahan kondisi alam,” ujar Aspihani, Sabtu (17/10/2026).

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) itu menjelaskan, salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah intrusi air laut yang dapat menyebabkan air baku sungai mengalami peningkatan kadar garam.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengganggu operasional intake Sungai Bilu dan intake Sungai Tabuk yang menjadi sumber air baku bagi instalasi pengolahan air (IPA).

“Persoalannya bukan sekadar ketersediaan air, melainkan kemampuan sistem penyediaan air minum menghadapi tantangan alam, terutama saat terjadi intrusi air laut yang menyebabkan air baku menjadi asin,” tegasnya.

Ia menjelaskan, apabila kadar garam dalam air baku melampaui batas toleransi proses pengolahan, air sungai tidak dapat diolah secara normal tanpa penanganan khusus. Situasi ini berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi air bersih kepada pelanggan.

Infrastruktur Air Baku Perlu Dioptimalkan
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Aspihani menekankan pentingnya pembangunan dan pemanfaatan infrastruktur air baku yang andal, terintegrasi, serta mampu mendukung kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Salah satu infrastruktur yang disorot adalah pembangunan intake dan jaringan pipa transmisi dari kawasan Sungai Tabuk untuk mendukung pasokan air baku bagi PT Air Minum Bandarmasih (Perseroda).

Menurut Aspihani, infrastruktur yang dibangun sejak 2017 dan mulai beroperasi sekitar 2020 itu memiliki nilai strategis dalam menjaga keberlanjutan pelayanan air bersih.

“Infrastruktur yang dibangun sejak 2017 dan beroperasi sekitar tahun 2020 tersebut harus dipandang dari manfaat strategis keberlanjutan pelayanan air bersih masyarakat, bukan sebatas proyek fisik semata,” terangnya.

Ia menilai, keberadaan infrastruktur air baku perlu didukung pengelolaan yang berkelanjutan, pemantauan kualitas air secara berkala, serta kesiapan menghadapi perubahan kondisi lingkungan.

Dengan langkah antisipatif tersebut, risiko gangguan pasokan air bersih akibat kemarau panjang maupun intrusi air laut diharapkan dapat diminimalkan.

Ancaman krisis air bersih di Kalimantan Selatan menjadi pengingat bahwa ketahanan sumber air dan keandalan infrastruktur merupakan bagian penting dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketika kondisi cuaca semakin tidak menentu.

Reporter : Tanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here