Minyak Solar Bersubsidi di SPBU Ranai Sering Habis dikeluhkan Sejumlah Warga, Ini Kata Pengamat Sosial

0
108
Foto : SPBU di Jalan Datuk Kaya Wan Mohammad Benteng Ranai.

Batamtimes.co – Natuna – Stock persediaan minyak solar bersubsidi di sejumlah SPBU Natuna sering kehabisan belum pada waktunya.

Akibatnya, sejumlah pengendara pengguna solar bersubsidi tersebut mengeluhkan kelangkaan solar bersubsi di SPBU, tak terkecuali di SPBU Jalan Wan Mohammad Benteng Ranai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Kejadian ini, diungkapkan Wayan (52) pemilik kenderaan truk warga kota Ranai menyampaikan rasa kekecewaanya stock solar bersubsidi di SPBU Ranai sering kehabisan sehingga aktivitasnya mengangkut barang menjadi terganggu sebut dia, kepada Batamtimes.co pada Jumat (05/06/2026).

” Terus terang pak, saya marah betul kepada petugas karena solar habis belum pada waktunya, masa baru pagi hari solar sudah kosong,” kesalnya.

Petugas SPBU tidak bisa berbuat banyak hanya bisa memberikan penjelasan solar habis, padahal kejadian tersebut pada pukul 08.00 pagi.

Parahnya lagi, sebut dia, saya disuruh datang besok pagi, Sabtu (06/06/2026) solar pun sudah kosong, tambahnya lagi.

Hal senada juga diungkapkan, ujang warga penagi pemilik pick-up sudah mutar-mutar di tiga SPBU di Kota Ranai mencari solar semuanya pada habis. Kejadian ini sudah terjadi seminggu belakangan sering mengalami kelangkaan.

Lalu, minyak solarnya kemana ?

Fuel Terminal Manager Pertamina Natuna, Ade Pranoto dikonfirmasi awak media melalui whatsAppnya, pada Minggu (07/06/2026). Terkait kelangkaan persediaan minyak solar bersubsidi yang dikeluhkan sejumlah warga belum berhasil mendapatkan penjelasan lengkap.

” Terima kasih informasi pak, baik kami richek ya pak, singkatnya.

Sementara, analisa pengamat sosial Bung Hersit panggilan akrabnya, menduga masalah solar bersubsidi di daerah perbatasan seperti Natuna, isu “solar subsidi bocor” ini emang sudah jadi keluhan lama warga.

Polanya sering sama SPBU lapor kuota masih ada, tapi di lapangan siang sudah kosong. Kalau kuota pusat cukup tapi masyarakat tetap kehabisan, ya berarti ada kebocoran di jalur distribusi.

Fakta lapangan yang sering terjadi di wilayah 3T perbatasan misalnya penyalahgunaan wewenang.

Solar subsidi yang harusnya buat nelayan, angkutan umum, diambil pakai surat fiktif atau kendaraan pelat dinas, terus dijual lagi ke kapal niaga atau pihak-pihak yang berkepentingan di proyek dengan harga tinggi. Selisih Rp6.800 ke Rp24.000 itu godaannya besar.

Penimbunan berjaringan. Satu orang nggak bisa menimbun ratusan liter sendirian. Butuh SPBU nakal yang mau isi jeriken berlebihan ditambah oknum pengawal biar aman lewat.

Selain itu, lemahnya pengawasan di pulau. Petugas BPH Migas dan auditor Pertamina nggak standby tiap hari di Natuna. SPBU di pulau lebih gampang “main” karena minim kontrol langsung.

” Kalau bener kuota cukup tapi habis karena disalahgunakan, yang rugi ya masyarakat,”

Permasalahan solar bersubsidi ini perlu penanganan serius semua pihak ” jangan maling teriak maling ini yang jadi repot, sampai kapan pun takkan selesai,” tegasnya.

Laporan/editor : Pohan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here