8.6 C
New York
Thursday, October 29, 2026
spot_img
Home KepriTimes Deny Jebat Sentil Cen Sui Lan: Jangan Permalukan Wartawan, Ingat Marwah Melayu!

Deny Jebat Sentil Cen Sui Lan: Jangan Permalukan Wartawan, Ingat Marwah Melayu!

0
81

Natuna, Batamtimes.co – Ketua Umum Komunitas Budaya Melayu (KODAM) Kepulauan Riau sekaligus Ketua Forum Tanjak Warisan (FTW) Kepri, Deny Jebat, menyentil Bupati Natuna Cen Sui Lan agar menjaga adab dan tutur kata, terutama ketika berhadapan dengan wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.

Peringatan tersebut, ia sampaikan terkait adanya ucapan Bupati Natuna kepada wartawan Koran Perbatasan, “Kamu dari mana? Koran Perbatasan? Tidak masuk!!”, di saat acara jamuan makan siang bersama insan pers di Rumah Makan Ajo Basamo, Jumat (23/10/2026) Minggu lalu.

Dikutip laman Koran Perbatasan, Deny menyampaikan pandangannya persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut pilihan kata, melainkan juga penghormatan terhadap profesi wartawan dan marwah seorang pemimpin Melayu, ujarnya Rabu 28 Oktober 2026.

Menurut Deny, seorang pemimpin harus mampu menjaga perkataan serta memperlakukan orang lain dengan hormat, termasuk insan pers yang menjalankan tugasnya untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Dia mengingatkan ucapan yang berpotensi mempermalukan seseorang di hadapan umum dapat berdampak terhadap hubungan antara pejabat publik dan insan pers.

Ia Kaitkan Persoalan dengan Filosofi Tanjak Melayu.

Kata dia, tanjak bukan sekadar penutup kepala atau pelengkap pakaian adat, melainkan simbol amanah, kehormatan, kewibawaan, dan tanggung jawab moral.

Lanjutnya, simpul tanjak melambangkan ikatan dan kesetiaan. Sementara bagian yang menjulang ke atas menggambarkan kedudukan dan cita-cita yang harus disertai kerendahan hati serta tanggung jawab.

Karena itu, menurut Deny, seseorang yang mengenakan tanjak semestinya juga mencerminkan nilai-nilai adat melalui sikap, perkataan, dan perbuatannya.

Ia menyinggung ungkapan “tanjak tak berempunya” sebagai pengingat bahwa simbol budaya seharusnya sejalan dengan perilaku orang yang mengenakannya.

Dalam konteks kepemimpinan, Deny menilai marwah seorang pemimpin tidak hanya terlihat dari jabatan atau pakaian adat, tetapi juga dari cara berbicara, menghormati orang lain, dan menyelesaikan persoalan.

Singgung Perjalanan Amran Membangun Pers Natuna.

Perjalanan panjang Amran, selaku Pemimpin Redaksi (Pempred) Koran Perbatasan, dalam membangun dunia pers di Kabupaten Natuna.

Ia mengaku mengenal Amran bukan hanya sebagai Pempred tetapi juga sebagai sosok yang telah melalui berbagai tahapan dalam perkembangan media di wilayah perbatasan.

Sebelum mengembangkan media berbasis elektronik, Amran mengelola Surat Kabar Umum (SKU) Tantangan. Kata Deny, media cetak tersebut pada masanya merupakan satu-satunya media yang berkantor pusat di Natuna.

Perjalanan itu, paparnya, menjadi bagian dari sejarah perkembangan pers di daerah perbatasan, ketika surat kabar cetak menjadi salah satu sarana utama penyampaian informasi kepada masyarakat.

Deny juga menyoroti kontribusi Amran dalam membina sumber daya manusia jurnalistik. Sejumlah orang yang pernah bekerja bersamanya kini telah mendirikan dan memimpin perusahaan pers sendiri maupun menempati posisi kepala biro di berbagai daerah, termasuk Natuna.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa dunia pers tidak hanya berkaitan dengan penerbitan berita, tetapi juga proses membangun pengalaman, keterampilan, dan regenerasi wartawan.

Atas dasar itu, sambung Deny menegaskan bahwa wartawan harus dihormati tanpa memandang media tempat mereka bekerja ataupun perbedaan pandangan dengan pejabat publik.

Ingatkan Pemimpin Menjaga Lisan

Untuk mengingatkan pentingnya menjaga perkataan, Deny menyampaikan sejumlah petuah Melayu.

“Lidah laksana pisau belati, salah cakap melukai hati. Tanjak di kepala tegak berdiri, tanda memimpin dengan hati,” demikian ungkapan yang disampaikannya.

Ia juga menyampaikan petuah:

“Wahai anak peganglah adat, lidah dijaga martabat diingat. Jangan berkata menghina umat, supaya kaum tidak tersayat. Kalau pemimpin bermulut lancang, runtuhlah adat runtuhlah rancang.” sebut Deny.

Perkataan seorang pemimpin memiliki dampak besar terhadap kepercayaan masyarakat. Ucapan yang santun dapat memperkuat hubungan, sedangkan perkataan yang dianggap merendahkan berpotensi menimbulkan kekecewaan.

Ia turut mengingatkan petuah Melayu, “Tahu memelihara muka orang, tahu menjaga aib orang, tahu menepis arang di kening, tahu memelihara nama yang baik.”ungkapnya lagi.

Bagi Deny, menjaga adab bukan berarti menghindari persoalan ataupun menutup ruang kritik. Sebaliknya, kesantunan diperlukan agar perbedaan pandangan dapat disampaikan tanpa merendahkan martabat orang lain.

Dia menilai pemimpin yang baik bukanlah sosok yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan yang bersedia memberikan penjelasan dan memperbaiki sikap apabila tindakannya menimbulkan persoalan.

Deny meminta Cen Sui Lan bisa memberikan klarifikasi mengenai maksud dan konteks ucapan yang dipersoalkan agar tidak terus menimbulkan polemik di tengah publik.

Karena Natuna merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki akar budaya Melayu. Karena itu, nilai-nilai adat diharapkan tetap menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam perilaku para pemimpin.

Selain itu, Deny mengaitkan pentingnya menjaga perkataan tersirat Surah Al-Ahzab ayat 70, yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar atau qaulan sadidan.

Pesan tersebut relevan bagi siapa pun, terutama pemimpin yang setiap perkataannya menjadi perhatian masyarakat.

Ia berharap Cen Sui Lan dapat mempertimbangkan dampak setiap ucapan, menghindari perkataan yang berpotensi dianggap mengejek atau merendahkan, serta mengedepankan komunikasi yang santun ketika berhadapan dengan wartawan dan persoalan ini dapat diselesaikan melalui klarifikasi dan komunikasi yang baik.

Ia menegaskan menjaga marwah tanjak harus berjalan seiring dengan menjaga adab, menghormati sesama, serta menunjukkan tanggung jawab dalam perkataan dan tindakan.

Identitas budaya Melayu tidak cukup ditampilkan melalui pakaian adat, tetapi juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk cara seorang pemimpin memperlakukan wartawan dan masyarakat.

Redaksi Koran Perbatasan Masih Menunggu Klarifikasi

Sementara itu, redaksi Koran Perbatasan sebelumnya telah meminta klarifikasi kepada Bupati Natuna Cen Sui Lan dan pihak terkait mengenai ucapan yang dipersoalkan tersebut.

Bahkan Redaksi juga telah mengirimkan surat klarifikasi lanjutan kepada Cen Sui Lan dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Natuna. Surat tersebut ditembuskan kepada sejumlah organisasi pers dan Dewan Pers Republik Indonesia.

Dalam surat itu, redaksi meminta jawaban tertulis dalam waktu lima hari kerja sejak surat diterima.

Hingga berita ini diturunkan redaksi masih menunggu tanggapan substantif dari pihak-pihak yang dimintai klarifikasi.

Koran Perbatasan tetap membuka ruang bagi Cen Sui Lan maupun pihak terkait untuk memberikan penjelasan mengenai konteks dan maksud ucapan yang dipersoalkan.

Repoter : Wan Yudi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here