Jumlah Penderita AIDS di Labuhanbatu Meningkat 105 Orang Terpapar

0
251
Jarum Suntik sebagai salah satu sarana penyebaran HIV AIDS

batamtimes.co , Sumut  – Jumlah penderita HIV AIDS atau disebut ODHA cenderung meningkat di Kabupaten Labuhanbatu. Kasus ini, dipicu akibat dari heteroseksual (berganti-ganti pasangan) dalam pergaulan di masyarakat.

“Tercatat, hingga Juni 2016, sebanyak 105 orang terpapar ODHA di Labuhanbatu dari hasil voluntary concelling and testing (VCT),” kata Wakil Sekretaris Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Kabupaten Labuhanbatu, Yeva Yusuf,Rabu.

Menurutnya, jumlah itu akan terus meningkat jika tidak ada partisipasi semua pihak dalam pengendalian penyakit itu.

Seperti, penguatan sosialisasi dampak dan akibat dari sex bebas, tidak di­skriminasi dan menyiapkan prog­ram peningkatan kesadaran akan bahayanya penyakit itu di masyarakat.

Meningkatnya penularan virus HIV AIDS bisa dibawa dari luar Kabupaten Labuhanbatu, karena daerah ini merupakan kawasan strategis untuk istirahat bagi pekerja transportasi yang melewati jalan lintas Sumatera (Jalinsum).

“Infeksi penularan penyakit menular seksual bisa saja terbawa dari luar,” ujar Bobby Agus Tirtana, Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang konsen dalam penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS Kabupaten Labuhanbatu.

Kondisi ini diperparah dengan adanya ODHA dari daerah kabupaten lain, seperti Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Padang Lawas Utara bahkan dari Bagan Batu Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.

Estimasi terpapar HIV AIDS di Kabupaten Labuhanbatu 3 kasus setiap minggunya. Hal ini dikarenakan, care support treatment (CST) masih bergantung dari daerah terdekat yakni Kabupaten Labuhanbatu.

Dia menjelaskan, ODHA di Labuhanbatu banyak diderita oleh usia produktif 19 hingga 30 tahun yakni 105 orang, lima diantaranya berstatus aparatur sipil negara (ASN) dan sekira 95 orang yang ditangani tercatat dari daerah luar.

Bobby mengungkapkan, selama ini KDS setempat terbebani dengan biaya tes darah lengkap (TDL) di RSUD Rantauprapat bagi penderita yang tidak memiliki identitas lengkap, karena proses ini harus dilalalui untuk mengetahui hasil observasi penyakit lain bagi penderita virus mematikan itu.

“Bila ada penderita ODHA dengan identitas tidak jelas begitu membebani dan apabila ada riwayat penyakit lain, kami tidak sembarangan memberikan Antiretroviral obat karena takut berdampak lain,” ungkapnya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan Labuhanbatu terus berupaya menyosialisasikan program-program pencegah penularan penyakit HIV/AIDS dengan melibatkan komponen masyarakat seperti KPA, PMI, rekan-rekan wartawan dan ibu-ibu rumah tangga.

Sosialisasi ini ditujukan kepada populasi kunci yakni pekerja seksual, lesbian waria dan gay yang ada.(red/tim/ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here