8.6 C
New York
Thursday, October 29, 2026
spot_img
Home KepriTimes OPINI : Asap di Negeri Sendiri : Ketika Langit Kalimantan Tak Lagi...

OPINI : Asap di Negeri Sendiri : Ketika Langit Kalimantan Tak Lagi Biru

0
78

Oleh : Asst. Prof. Mohammad Mara Muda Herman Sitompul, S.H., M.H.(Bung Hersit)

Catatan Pengamat Hukum, Kebijakan Publik dan Sosial.

Kalimantan adalah paru-paru dunia.

Tapi setiap musim kemarau, paru-paru itu justru sesak oleh asapnya sendiri. Hari ini, langit di Puruk Cahu, Palangka Raya, dan Kotawaringin tidak lagi biru, tapi kuning keabu-abuan.

Kabut asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menyelimuti Kalimantan. Ini bukan sekadar kabut, ini adalah racun yang kita hirup bersama.

Fakta Terkini : Bukan Main-Main

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, tercatat 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 7 provinsi terdampak Karhutla. Dari jumlah itu, 75.172 kasus adalah balita di bawah 5 tahun.

Di Kalimantan Tengah saja, Kementerian Kehutanan mencatat 288 titik panas, dan kualitas udara di Palangka Raya tembus ISPU 1.297 kategori Berbahaya. Padahal di atas 300 saja sudah berbahaya.

Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada anak yang sesak, ada orang tua yang batuk semalaman, ada ibu yang tidak bisa tidur karena khawatir.

Dampak Kesehatan : Musuh Tak Terlihat Bernama PM2.5

Asap Karhutla bukan hanya membuat mata perih. Musuh paling berbahaya adalah PM2.5, partikel halus yang tidak terlihat, tapi masuk sampai ke paru-paru dan pembuluh darah.

Api tidak hanya membakar kayu. Ia membakar habitat Orangutan di Tanjung Puting, mematikan mikroorganisme tanah, dan di lahan gambut yang terbakar, ia melepaskan karbon ribuan tahun ke atmosfer.

Sekali gambut terbakar, yang hilang bukan hanya hutan hari ini, tapi cadangan karbon masa depan kita.

Dampak Sosial Ekonomi : Sekolah Tutup, Rezeki Macet

Karena jarak pandang hanya beberapa meter, penerbangan delay, sekolah diliburkan dan dialihkan daring, nelayan tidak bisa melaut, petani gagal panen. Biaya berobat warga membengkak.

Yang paling terpukul bukan orang kaya yang bisa beli air purifier dan pindah ke hotel. Yang paling terpukul adalah warga kecil, buruh, petani, dan anak-anak di kampung yang tidak punya pilihan selain menghirup asap.

Lalu Kita Harus Apa? Karhutla Bukan Takdir

Karhutla bukan takdir. Karhutla adalah soal tata kelola.

Analisa WALHI menemukan 74% titik panas berada di kawasan konsesi perusahaan. Artinya, ini bukan sekadar ulah warga yang bakar ladang. Ini soal siapa yang menguasai lahan, siapa yang mengawasi, dan siapa yang bertanggung jawab.

Sebagai masyarakat, yang bisa kita lakukan :

1. Jangan bakar lahan untuk buka kebun, apapun alasannya.

Api kecil hari ini bisa jadi bencana besar besok, apalagi di lahan gambut.

2. Gunakan masker N95, bukan masker kain biasa saat asap pekat.

Masker kain tidak mampu menyaring PM2.5.

3. Lindungi kelompok rentan.

Batasi anak-anak main di luar, perbanyak minum air putih, dan segera ke puskesmas jika sesak, batuk tak berhenti, atau mata perih berkepanjangan.

4. Lapor.

Jika melihat pembakaran sengaja, lapor ke Lurah, BPBD, atau Manggala Agni. Jangan diam, karena diam kita yang membuat pembakar makin berani.

Asap di Kalimantan adalah cermin kita semua.

Kalau hutan kita jaga, hutan akan jaga kita.

Mari kita mulai dari RW 09 kita. Menjaga lingkungan adalah bagian dari iman, dan bagian dari tugas kita sebagai Patriot Pelindung Masyarakat.

Penulis : Akademisi Senior, Guru Besar Advokat Indonesia, Pakar Hukum Pidana UNMA Banten | Wasekjen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here