Yayasan Kita Menulis: Agar Terhindar dari Plagiat, Menulis itu Harus Jujur

0
341

Medan – Salah satu alasan dosen tidak ada waktu untuk menulis adalah karena kesibukan mereka, padahal tugas dosen sebagaimana diamanatkan undang-undang salah satunya adalah menyiapkan buku, baik dalam bentuk buku ajar, modul maupun bentuk lainnya.

Untuk memotivasi dan menjadi penulis yang baik, Yayasan Kita Menulis mengadakan Workshop dengan mengambil tema: Workshop 4.0 Penulisan Buku Ajar, Referensi dan Monograf. Kegiatan ini digelar di Mall Cambridge City Square, Jl. S. Parman No.217, Kota Medan, Sabtu (26/10/2019).

“Dr. Janner Simarmata yang menjadi pemateri tunggal pada acara ini mengatakan bahwa di era digital saat ini, semua telah dimudahkan dalam mencari informasi, jadi alasan kesibukan adalah sebuah kelemahan seorang dosen,” ucapnya.

Karena di era sekarang, semua orang pasti memiliki perangkat portable, seperti laptop, tablet, handphone, jadi disaat kita punya ide, kita tinggal mengetikkan diperangkat tersebut dan ini memudahkan pekerjaan kita.

Pengalaman Dr. Janner Simarmata sebagai penulis buku sejak 2006 dan telah menerbitkan buku sebanyak 30 judul menjadikan workshop ini berlangsung efisien dan sangat menyenangkan disamping berbagi pengalaman dalam menulis, juga workshop ini dilakukan secara learning by doing.

Ia juga menjelaskan teknik dan strategi penulisan buku serta memotivasi para peserta untuk selalu kreatif dan mengikuti perubahan yang ada.

“Diketahui, banyak dosen yang telah melakukan penelitian dan menghasilkan draft penulisan namun sayangnya banyak dosen pula yang terkendala untuk menjadikannya menjadi sebuah buku yang diterbitkan dan ber-ISBN,” katanya.

Dengan pelatihan penyusunan buku ajar ini, lanjut Janner, diharapkan para dosen lebih kreatif dalam menyusun buku ajar agar menghasilkan sebuah karya buku yang baik.

“Banyak juga dosen tidak mau menulis karena takut tulisannya dikatakan plagiat, dan kata palgiat ini selalu menghantui untuk memulai menulis,” ucap Janner.

Disini yang perlu kita pahami, tulisan bisa dikatakan plagiat bila kita sendiri tidak jujur, kita tidak jujur dalam penggunaan hasil karya orang lain dan seakan akan tulisan itu adalah hasil kerja diri sendiri, tanpa memberi pengakuan pada penciptanya yang asli.

“Artinya, disaat kita mengambil/merujuk dan / atau mengutip istilah, kata dan / atau kalimat, data dan / atau informasi dari sumber yang kita rujuk, maka sumbernya harus kita sebutkan, kalau itu kita lakukan, lantas apa yang mau kita takutkan,” pungkasnya.

Peserta workshop ini dibatasi hanya 15 orang saja untuk mengefektifkan pelatihan, dan dihadiri oleh dosen-dosen dari berbagai institusi yang ada di Sumatera utara, yakni: Ida Mariani Pasaribu (Univ. Sari Mutiara), Alex Rikki (Amik Imelda), Muhammad Iqbal (Unimed), Achmad Rifai (Dinkes Prov SU), Yenni D Aprilita Sagala (Unimed), Zaskya Laksmitha Utami (Unimed).

Bunga Fisikanta Bukit (Universitas Quality), Aras Firdaus (Universitas Quality), Maslan Lumbanraja (STT Renatus P. Siantar), Ebenius Simarmata (STT Renatus P. Siantar), Khairunnisa (Univ. Sumatera Utara), Asyahri Hadi Nasyuha (STMIK Triguna Dharma), Syafrida Hafni (Univ. Medan Area), Eva Sartika Dasopan (Univ. Tjut Nyak Dhien). Buenita S (Univ. Prima Indonesia), M. Iqbal Panjaitan (AMIK Imelda)

Dan peserta yang membawa naskah buku dan telah dilakukan perbaikan, buku tersebut akan diterbitkan oleh Penerbit Yayasan Kita Menulis. Kegiatan serupa akan digelar oleh Yayasan Kita Menulis setiap bulannya, mengingat antusias dan keingintahuan peserta dalam menulis.

 

 

(red/Janer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here