Amsakar mendukung upaya masyarakat agar kolintang mendapatkan pengakuan dari Unesco

0
132

Batam – Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad mengapresiasi lomba kolintang yang diselenggarakan di Kota Batam. Lomba yang memperebutkan piala Presiden ini digelar di Hotel Pasific pada Rabu (26/6).

Terlebih 34 tim dari berbagai daerah berkumpul di Kota Batam untuk mengikuti lomba kolintang ini.

“Kami bahagia dan bangga, karena seluruh pecinta kolintang berkumpul, memberikan perhatian dan memilih Batam sebagai tempat penyelenggaraan,” kata Wakil Wali Kota.

Ia mengajak seluruh masyarakat terus menyuarakan dan menggelorakan, karena kolintang merupakan kebudayaan asli Indonesia. Dengan terus dilestarikannya maka orang akan tau bahwa kolintang asli dari Indonesia sehingga tidak diklaim negara lain.

Amsakar juga mendukung upaya masyarakat agar kolintang mendapatkan pengakuan dari Unesco. Harapannya, lomba yang diselenggarakan di Batam itu dapat mempercepat pengakuan dari Unesco. Katanya, rakyat yang harus mensyiarkan, memberikan informasi secara luas mengenai kolintang untuk mendapatkan pengakuan dari dunia.

“Acara ini penting, agar mendapatkan pengakuan internasional, bahwa kolintang adalah murni budaya Indonesia,” kata dia.

Bupati Minahasa Sulawesi Utara, Royke Oktavian Roring mengatakan lomba memperebutkan Piala Presiden itu merupakan upaya memperluas, dan memperkenalkan budaya kolintang ke pelosok nusantara. Ia juga mendukung upaya segenap warga Indonesia dalam memperjuangkan kolintang sebagai waridan budaya dunia asli dari Indonesia.

“Kolintang ‘goes to Unesco”. Kolintang berasal dari Minahasa milik Bangsa Indonesia,” kata dia.

Menurutnya, lomba ini sudah dua kali diselenggarakan. Pada perlombaan kali ini peserta dibagi dalam enam kategori, yaitu SD, SMP, SMA-sederajat, mahasiswa, ibu-ibu dan umum. Sebanyak 4 tim SD ikut ikut ambil bagian, kemudian kategori SMP diikuti 8 tim, SMA sebanyak 4 tim, mahasiswa sebanyak 2 tim, dan masing-masing 8 tim kategori ibu-ibu dan umum.

“Ini adalah acara budaya yang didambakan,” ucapnya.

Pemenang lomba skala nasional itu akan dihadiahi tropi, sertifikat serta dana pembinaan. Dan khusus untuk kategori umum, pemenang berhak mendapatkan Piala Presiden yang diberikan secara bergilir.

Ketua Gerakan Pejuang Merah Putih, Jeffrey Rawis mengatakan perlombaan itu merupakan upaya mewujudkan konsep trisakti Bung Karno, terutama dalam idiologi politik berkepribadian dalam kebudayaan.

“Acara ini strategis di tengah isyu negara lain yang ingin mengklaim kolintang milik mereka,” ungkapnya.

Lomba Kolintang memperebutkan Piala Presiden merupakan persembahan GPMM demi kejayaan Indonesia, dengan keragaman budaya yang menjadikan Indonesia kuat dan digdaya. “Mari majukan kearifan lokal dengan menolak aksi desdruktif,” ajaknya.

Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan) bersama Gerakan Pejuang Merah Putih dan masyarakat Minahasa memperjuangkan agar alat musik tradisional kolintang dapat pengakuan Unesco sebagai warisan budaya dunia.

“Mari bersama-sama berjuang agar kolintang mendapatkan pengakuan dari Unesco,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Pinkan, Penny Iriana Marsetio.

Ditegaskannya, kolintang adalah milik masyarakat Minahasa, dan secara umum milik seluruh masyarakat Indonesia, sehingga pengakuan dari Unesco patut diperjuangkan. Lomba Kolintang memeperebutkan Piala Presiden merupakan satu dari berbagai upaya menjadikan kolintang sebagai warisan budaya dunia yang diakui Unesco.

 

 

(red/HMS/GM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here